Si Miskin dan Si Kaya
(oleh: iskandaralfatih)
dramatisasi puisi: Malaikat, Si Kaya, Si Miskin.
Malaikat:
Adalah dua kisah yang tak pernah bisa dipisahkan
Berbeda tapi selalu berdampingan
Sedari awal dunia ini memulai nafas kehidupan
Ya..
Mereka adalah akar terbesar masalah manusia
Sebuah kesenjangan besar yang menyedihkan
Kesenjangan besar yang tak patut dibicarakan
Adalah si kaya
Makhluk bergelimang harta, hidup dalam kebahagiaan palsu dan congkak pada setiap koin emas ditangannya!
Lalu, adalah si miskin
Makhluk yang hanya meratap, berdoa setiap matahari tiada tampak, mengharap kesabaran, kekuatan, kemudahan dalam meniti jalan kehidupan! Mengharapkan suatu perubahan!
Tapi tak pernah mencoba merubah jalan. Terpaku.
Si kaya:
Memangnya kenapa kalau merasa bangga?
Aku tidak merajut kehidupan dengan tangan kosong
Aku tidak melukis koin emas dengan kepala kosong
Apa salahnya membajak ladang sendiri?
Apa salahnya menambang lembah sendiri?
Aku tak pernah mencuri, tak pernah menipu, tak pernah memalsu
Aku menggunakan setapak suci dan bersih
Kau lihat saja si miskin! Kering. Kusut. Kotor.
Setiap gelap hanya mengharap!
Berbahagia hanya dengan sebutir koin emas yang tak bernilai!
Dia tidak la lebih dari buih lautan. Terlalu rapuh untuk menimba emas!
Pasrah! Pasrah! Pasrah dan pasrah!
Tidak tergambar gurat diwajahnya untuk berubah.
Si miskin:
Kau puas, manusia kaya?
Kau puas menjadi tinggi dan menganggap rendah makhluk yang hanya setinggi betismu?
Tidak ada satupun dari kalian yang peduli.
Bahkan sejengkal-pun tak ada rasa untuk ingin mengerti.
Hinalah! Cacilah! Makilah!
Ya.
Aku bahagia dengan sebutir koin emas yang berputar ditelapak tanganku.
Kau tak pernah mencuri, aku pun tidak pernah mencuri
Kau tak pernah menipu, begitupula denganku
Menantikan kekuatan dan kesabaran setiap malam mulai bernafas
Maka dengan itu, Aku, bisa bernafas lega hanya dengan satu koin emas!
Aku bersyukur aku bukanlah makhluk tertimbun harta, yang pada akhirnya, hanya bisa menatap hina, berucap busuk pada mereka yang hanya mengais tanah kering.
Kalian makhluk berharta semua sama saja.
Tak pernah bersyukur. Tak pernah cukup!
Si kaya:
Heh!..
Tidak ada yang lebih memuakkan
Selain rasa optimis makhluk bawah sepertimu
Si miskin:
Untuk orang yang tak pernah bersyukur sepertimu
Saluran pengeluaran terkotor adalah lidahmu
Malaikat:
Cukup!
Tidak bisakah kalian hentikan permainan kanak-kanak ini?
Sesama manusia
Hidup berdampingan
Tapi kalian saling membenci.
Kau si kaya!
Tidak bisakah kau berhenti mengangkat kepala?
Tidak ada nyawa yang menyukai dan menerima makhluk yang hanya melihat keatas!
Memandang hina orang lain hanyalah menambah kehinaan!
Menjadi sample manusia bergelimang koin emas,
Kesombonganmu hanyalah aib yang tak berbendungkan!
Si kaya:
Bukannya selama ini kau selalu berdam diri?
Kau tak pernah turunkan petir menuju lidahku
Tak pernah meruntuhkan atap ketika nyenyak manusia?
Kalau kau mau
Bukankah bisa kau mengambil kembali seluruh koin untuk dikembalikan pada Tuhan manusia?
Malaikat:
Apakah kau percaya bahwa aku yang menciptakan petir?
Apakah kau percaya aku yang merobohkan batu bata?
Kau percaya?
Seberapa besar kesombongan menggerogoti nuranimu?
Apa kau lupa siapa Penciptamu?
Siapa yang Meniupkan ruh pada jasadmu?
Asal kau tahu
Kalau Dia sudah berkehendak, apapun itu
Koin emas mu tak akan berharga
Bahkan sekarangpun tak ada harganya!
Dan kau si miskin!
Berhentilah menipu diri sendiri!
Kau beristri kau beranak
Jangan kau minta kekuatan untuk dirimu sendiri!
Jangan kau minta kesabaran untuk dirimu sendiri!
Menumbuhkan ketidak ikhlasan pada ruh mereka,
Kau egois! Mengharapkan kekuatan dan kesabaran tanpa usaha untuk berubah.
Mereka butuh makan! Mereka butuh pendidikan! Mereka butuh lebih dari sekedar kata penguat!
Kau bisa bertahan dengan satu koin emas,
Tapi keturunanmu butuh dua tiga empat koin dan kau tak pernah berusaha berubah!
Si miskin:
Kau kenapa malaikat?
Bukankah kau bertugas membagikan rezeki?
Bukankah kau bertugas menurunkan hujan dikala ladang kering meronta?
Bukankah kau memiliki tugas besar mengantarkan do’a manusia kepada Tuhan seluruh manusia?
Lalu
Kemana kau selama ini?
Malaikat:
Apa kau telah lupa?
Dia adalah Tuhan seluruh manusia,
Ia tak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka merubah diri mereka sendiri!
Tapi lihatlah dirimu..
Kau menipu diri sendiri
Melantunkan bait-bait syukur untuk menutupi desahan nafas pasrahmu
Dan kau tak pernah mencoba untuk berubah
Bukankah kau paham?
Tidak ada do’a yang bisa tidak didampingi usaha?
Si kaya:
Apa yang kau inginkan?
Setelah semua bait yang kau ucapkan?
Setelah semua hujatan yang kau lontrakan,
Apa yang kau dapatkan
Malaikat:
Perubahan, saudaraku
Tidak bisakah kita berubah?
Menjadi pribadi yang lebih berguna?
Lebih baik?
Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi saudaranya?
Dinding besar diantara kalian tidak adan roboh satu sisi
Tetap berdiri atau kalian hancurkan bersama
Tidakkah lebih baik jika hidup tanpa rasa benci?
0 komentar:
Posting Komentar